Misteri
Rafting Pacet
( Siang itu di kelas 9b)
Bu
Maryati : “Ass. Wr Wb,
anak-anak minggu depan sekolah kita akan mengadakan rafting di Pacet dalam
rangka kegiatan tengah semester. Jadi, ibu minta kalian untuk mencatat barang
apa saja yang harus dibawa.” (dengan bersemangat)
(Sementara
itu sekelompok anak berkumpul di belakang kelas sambil
membicarakan
sesuatu)
Alivia
: “Salsa,Bitta,Alda
aku ingin ngomong sesuatu nih. Minggu depan orang tuaku ada dinas di Jepang.
Jadi, adikku ingin ikut KTS kita, gimana?”
Salsa : “Kalau menurutku sih
nggak apa-apa adikmu ikut, kita bisa jaga dia bersama-sama kan. Yang penting
kamu izin dulu sama Bu Mar.”
Bitta
: “Iya Liv, aku
setuju sama Salsa.”
Alivia : “Hmm, oke kalau gitu.”
(sambil tersenyum)
Alda : “Eh ayo kita catat dulu
barang-barang yang harus dibawa.” (lalu menuju ke tempat duduknya)
(Setelah
itu mereka berempat segera duduk ditempat mereka. Sepulang
sekolah
Alivia meminta izin kepada Bu Maryati, dan beliau mengizinkan)
(Kamar
Alivia)
Alivia
: “Dek, kata guru
kakak kamu boleh ikut. Yang penting kamu jangan bawel ya disana.”
Elsa
: “Siap kak, ayo
kita segera bersiap-siap.”
(Sabtu
pagi di aula SMP Negeri 19)
Pak
Yadi : “Ayo anak-anak
segera membentuk barisan sesuai kelasnya masing-masing, 15 menit lagi kita akan
berangkat.”
Murid-murid : “Baik, Pak.” (menjawab serentak)
(
15 menit kemudian, semua murid menuju bis mereka masing-masing. Elsa
duduk
dengan Alivia, Bitta dengan Salsa, dan Alda)
Bu
Maryati : “Baik anak-anak.
Sebelum kita berangkat mari kita berdoa terlebih dahulu.” (semua murid berdoa
dengan khidmat)
(
2 jam kemudian mereka semua sampai di salah satu area rafting di Pacet.
Rencananya
siang itu mereka akan melakukan rafting dan malamnya mereka
akan
mendirikan tenda di sekitar area)
Pak
Yadi : “Anak-anak, sekarang
cepat dirikan tenda sesuai kelompok dan kalau sudah selesai cepat berkumpul di
pinggir sungai.”
Seluruh
murid : “Iya Pak.” (sambil
bersemangat)
(
Salsa, Alivia, Bitta,dan Elsa segera mendirikan tenda dan memasukkan barang-
Barang.
Setelah itu mereka mulai rafting)
(
Hari sudah semakin malam, semua murid sudah berkumpul untuk membuat
api
unggun)
Elsa
: “Kak, Elsa mau
balik ke tenda sebentar ya. Elsa mau ambil jaket. Aku titip kalung ke kakak
ya?” (sambil melepas kalung dan memberikan kalungnya kepada Alivia)
Alivia : “Kamu berani sendirian?
atau mau kakak antar?”
Elsa : “Nggak usah kak, Elsa berani kok.” (sambil menyalakan senter
dan meninggalkan Alivia)
(
Dari kejauhan tampak 2 orang laki-laki yang mengamati Elsa dengan cermat,
setelah
mereka berdua melihat Elsa berjalan sendirian ke tenda, penculik 1 dan penculik
2 segera melakukan aksinya)
Penculik
1 : “Dalam hitungan ketiga
ayo kita culik dia.”
Penculik
2 : “Baik 1...2...3!”
Elsa
: “Tolong.... Tolong
lepaskan aku!” (sambil berusaha menendang-nendang kaki si penculik)
Penculik
1 : “Sudah! Jangan
teriak-teriak.. Percuma kamu teriak, disini tidak ada yang bisa mendengarmu
hahaha...
Cepat ikat kakinya.
Lalu cepat bawa ke tempat persembunyian kita.”
Penculik
2 : “Siap !”
(Tanpa
sepengetahuan mereka, Elsa menjatuhkan satu demi satu
permen
yang ia bawa untuk memberi jejak)
Elsa
: “Semoga kak Alivia
dan teman-temannya dapat menemukan dan menyelamatkanku.” (sambil menjatuhkan
butiran permen)
(
Alivia mulai panik, lalu ia memanggil Bitta, Salsa, dan Alda)
Alivia : “Eh, elsa daritadi belum
kembali. Tadi dia bilang mau mengangmbil jaket. Tapi sudah setengah jam dia
belum kembali. Aku takut terjadi sesuatu sama dia.”
Bitta
: “Liv, tadi aku
lihat ada bayangan orang yang menyelinap menuju tenda kita. Apa mungkin Elsa
diculik?”
Salsa
: “Hey, jangan
berasumsi macam-macam dulu!”
Alivia : “Tapi Sal, aku khawatir.”
Alda
: “Ayo kita beritahu
Bu Maryati dan guru lainnya.”
(Mereka
berempat pun berlari menuju guru)
Alivia
: “Bu Mar, Elsa belum
kembali dari tenda. Saya takut dia kenapa-napa. Dia tadi bilang ke saya hanya mau mengambil jaket.
Tapi sudah setengah jalan dia belum kembali.” (dengan panik)
Bu
Mar : “Tenang Alivia,
jangan panik. Pak,Bu ayo kita suruh anak-anak untuk berpencar mencari Elsa.
Pak
Yadi : “Baik Bu, ayo lekas
anak-anak ambil senter kalian. Kita akan bersama-sama mencari Elsa.”
(Mereka
pun mencari sambil meneriakkan nama Elsa)
Alda
: “Elsaa.. Elsa...”
Alivia
: “Elsa... dimana kamu
dek?”
Salsa : “Tunggi
sebentar,bukannya ini permen yang sering dibawa Elsa?” (sambil menunjuk permen)
Bitta : “Iya benar, disini juga
ada.”
Alivia
: “Iya benar,
sepertinya Elsa memang sengaja meninggalkan jejak untuk kita.”
Alda : “Ayo kita ikuti permen
ini, mungkin ini bisa membawa ke tempat Elsa diculik.”
(Mereka
berempat segera melanjutkan pencarian, walaupun sudah tengah
malam
mereka mencoba untuk tidak mengantuk)
(Sementara
itu di tempat persembunyian, penculik itu memaksa Elsa untuk menyerahkan
kalungnya)
Penculik
2 : “Hey anak kecil, ayo
cepat serahkan kalungmu!) (dengan nada membentak)
Penculik
1 : “Iya cepat serahkan, atau
kamu mau pisau ini menggores kulitmu?! Cepat serahkan!!” (menodongkan pisau)
Elsa : “Aku tidak membawa
kalung itu, percayalah.” (sedikit terisak)
Penculik
1 : “Halah tidak usah
berbohong, Rasyid coba kamu cek saku-sakunya!”
(Beberapa
menit berlalu)
Penculik
2 : “Sepertinya,anak ini
benar-benar tidak membawa kalung itu.”
Penculik
1 : (mata melotot) Apa??!!
Tidak mungkin!” (berpaling ke Elsa) “He anak kecil, dimana kau sembunyikan
kalung itu?”
Elsa
: (mulai menangis)
“Aku benar-benar nggak membawanya, percayalah padaku! Bukankah kalian sudah
memeriksanya?”
Penculik
2 : “Apa yang harus kita
lakukan, sepertinya anak ini memang tidak berbohong.” (berpangku tangan)
Penculik
1 : “Apa boleh buat, karena
anak ini telah melihat wajah kita, kita harus membunuhnya.” (mengelap pisau)
(menempelkan ujung pisau ke leher Elsa)
Penculik
2 : (suara perut terdengar
sambil memegangi perutnya)
Penculik
1 : (melirik penculik 2
dengan sinis) “Apa-apaan disaat seperti ini kamu malah lapar? Yasudah kita
makan malam dulu, baru kita bereskan anak ini.”
(Kemudian
penculik itu meninggalkan Elsa)
Elsa
: (menangis dan
berkata dengan lirih) “Semoga kak Alivia menemukanku sebelum dua orang ini
membunuhku.”
Bitta
: “Permennya Elsa
semakin lama semakin sedikit yang kelihatan. Gimana ini? Jangan sampai kita
kehilangan jejak.”
Alivia : (teriak) Ya Allah.. Elsa,
kamu dimana sih?
Salsa
: “Eh, lihat tuh.
Kayaknya di pojok sana ada gubuk (nyorotin senter) meski permennya semakin jauh
semakin sedikit, tapi arahnya menuju kesana.”
Alda : “Siapa tahu Elsa ada
disana? Gimana kalau kita cek sekarang?” (bergegas ke gubuk tua)
Alivia : “Jangan dulu, Da!”
(menarik lengan baju Alda)
Alda
: “Loh, kenapa?”
Bitta : “Sebaiknya kita laporkan
ke Pak Yadi, Bu Mar dan lainnya dulu. Kita minta bantuan mereka juga.”
Salsa
: “Iya, selain itu
kita nggak tahu siapa yang bersama Elsa dan senjata apa yang mereka miliki.”
Alivia : “Oke, aku akan mencari Bu
Mar dulu.” (lari meninggalkan Alda,Bitta,Salsa)
(10
menit kemudian)
Bu
Maryati : “Anak-anak kita bagi
tugas. Pak Yadi akan keluar daerah perkemahan ini untuk memanggil polisi,
berhubung sinyal disini tidak memungkinkan. Sedangkan Ibu akan tetap di sini
bersama kalian.”
Semua
: “Baik Bu.” (menjawab
serentak)
Bu
Maryati : “Kevin,Nabil, kalian
siap-siap di pintu depan. Sedangkan Ilham,dan Manda kalian berjaga di pintu
belakang. Novi dan Nadevan, kalian siap-siap di jendela samping gubuk itu, perhatikan
gerak-gerik orang di dalam. Halila,Aji,Diego kalian selidiki gazebo kecil di
dekat gubuk itu, siapa tau kalian dapat petunjuk tentang penculik itu.”
Semua
: “Siap Bu!” (berlari
menuju tempat masing-masing)
(Di
dekat gubuk)
Halila : “Kayaknya memang ada orang
di gubuk itu, lihat deh, ada jejak kaki baru yang menuju ke situ.” (sambil
menunjuk gubuk)
Aji : “Eh lihat! Ada mobil
disini, sepertinya itu milik orang yang kemungkinan menculik Elsa.”
Halila
: “Ada apa, Go? Kok
wajahmu terlihat kaget seperti itu?”
Diego : (masih dengan tampang
shock) “Tidak... hanya sepertinya aku mengenali pemilik mobil ini. Aku sering
berpapasan dengan mereka saat berangkat sekolah.” (terdiam sejenak) “atau
mungkin aku salah orang.”
Aji
: “Memangnya
siapa, Go? Kalau kamu sering berpapasan dengan mereka, kemungkinan besar mereka
orang dalam sekolah!” (dengan nada mendesak)
Halila : “Ayo Go! Ini demi
keselamatan kita semua!” (panik)
Diego
: “Begini... sepertinya
ini mobil.... (berbisik kepada Aji dan Halila)
Halila&Aji : (kaget) (wajah sedikit
ketakutan) “Tidak... Tidak mungkin! Kalau itu benar mereka, kita semua berada
dalam bahaya!
Diego
: (mengangguk memberi
persetujuan) Tapi tidak boleh terlalu tergesa-gesa. Kita harus melihat sitausi
dulu, atau kita malah membuat keadaan semakin buruk.”
(Kevin
dan Nabil berjaga di pintu depan)
Nabil : “Vin,lihat deh! Disekitar
pintu banyak lumpur basah,berarti di dalam sini ada orangnya. Kelihatan bekas
ini masih baru.” (berbisik)
Kevin : “Oh iya! Dan lihat! Ini
bekas sampah masih baru,aku akan mengecek-nya.” (berjalan menuju tempat sampah
)
Nabil : “Jangan! Nanti malah
membuat keributan! (setengah berteriak)
Kevin : “Apa ? Suaramu nggak
kedengaran! (berbalik) (menyenggol tempat sampah sampai jatuh) (keributan dari
tempat sampah jatuh)
Nabil : (menutup wajah) “Gawat!”
(Sementara
itu, kedua penculik berbincang-bincang)
Penculik
2 : “Hah... kenyang...”
(memegangi perutnya)
Penculik
1 : (menggerutu) “Dasar!
Cepat buang sampahnya. Lalu kita bereskan bocah kecil itu!” (menunjuk Elsa)
Penculik
2 : Ya...(berjalan dengan
malas)
( terdengar
keributan dari luar)
Penculik
2 : “Apa itu ? Kok ramai sekali
di luar.” (menoleh ke Penculik satu)
Penculik
1 : “Sial! Masa orang-orang
itu menyadari lokasi kita ?! (mengambil pisau dan senjata) (menuju ke pintu) Hei,
jaga bocah itu. Aku akan mengecek ke depan. (memakai masker pencurinya lagi.”
(membuka pintu)
Kevin : “Maaf bil, maaf! Kita
ketahuan sepertinya!”
Nabil : “Tidak ada waktu untuk
meminta maaf. Sekarang apa yang harus kita lakukan jika kita ketahuan ?”
(panik)
(suara pintu
dibuka) (Nabil dan Kevin berjalan mundur)
Penculik
1 : (berpikir dalam hati)
“Cih, ternyata 2 temen sekelas kakak si bocah itu. Berarti di sekitar sini
mungkin ada guru. (maju mendekati Nabil dan Kevin) Apa yang kamu lakukan disini, bocah kecil ?!”
Nabil : “Um...Tidak...Tidak
apa-apa. Kita hanya...sekedar kebetulan lewat sini.” (berbicara terbata-bata)
(berpikir dalam hati) “Sepertinya aku mengenali suara ini.”
Penculik
1 : “Jangan berbohong anak
kecil !”
Kevin : “Kamu penculik kan ?! Kamu
yang menculik Elsa kan ?! Kembalikan Elsa !” (berteriak menantang)
Penculik
1 : “Apa-apaan kamu anak kecil?? Kalau
kamu berani menantang seperti ini kau akan rasakan akibatnya!” (berjalan ke
arah Kevin dan Nabil)
Kevin : (memasang kuda-kuda) “Maju
kalau berani!”
Nabil : (panik) “Kevin! Sudah
jangan membuat keadaan semakin............” (jatuh terjerembab) “Apa-apaan
kau?!” (berteriak ke arah penculik 1)
Penculik
1 : (bangkit setelah
membanting Nabil) “Sudah terlambat, anak kecil! Kalian tidak bisa melarikan
diri! Kalian telah mengetahui kejahatan kami. Sekarang, aku akan menutup mulut
kalian selama-lamanya!!!” (tertawa dengan keras) (mulai menyerang Kevin)
Kevin : (jatuh menimpa Nabil)
Penculik
1 : “Tenang saja anak kecil,
aku tidak akan langung membereskan kalian. Kalian akan kukunci di dapur setelah
kami membereskan gadis kecil yang kalian cari. Hahahaha” (tertawa)
(mengeluarkan tali dan mengikat Kevin serta Nabil lalu menyeret mereka ke
dapur)
(Di
samping gubuk tua tersebut)
Novi : “Devan, lihat! Sepertinya
Nabil dan Kevin telah tertangkap oleh penculik itu! Bagaimana ini?” (panik)
(menunjuk ke arah jendela)
Nadevan : “Benarkah?!” (mengintip di
balik jendela) “Ya Rabbi.. Sepertinya situasi semakin genting. Apa yang harus
kita lakukan!?” (berjalan mondar-mandir)
Novi : (terdiam sejenak) “Apa
kita memberitahu Ilham dan Manda dulu? Mungkin mereka akan memberi kita ide.”
(bergegas menuju pintu belakang)
Tanpa
dikomando, Nadevan segera mengikuti Novi menuju Ilham dan Manda.
Manda : “Ada apa, Nov, Van? Mengapa
wajah kalian tampak ketakutan?” (bertanya dengan nada cemas)
Novi : “Anu... I.. Itu.. Nabil
dan Kevin.....” (Suaranya bergetar)
Ilham : “Apa?? Apa yang terjadi
pada Nabil?!” (wajah mengeras)
Nadevan : “Nabil dan Kevin tertangkap
oleh para penculik itu.” (dengan nada khawatir)
Ilham : (mengepalkan tangannya)
“Kurang ajar! Siapa yang berlaku macam-macam pada Nabil maka mereka harus
berhadapan denganku!” (dengan nada kesal)
Manda : “Tenangkan dirimu, ham!
Jangan naik pitam dulu, yang kita butuhkan sekarang adalah mendinginkan kepala
dan mengambil tindakan dengan cermat. Kalau kita gegabah, kita bisa tertangkap
seperti mereka!” (dengan nada menenangkan Ilham)
Nadevan : “Tidak ada jalan lain. Kita
harus memberitahu semuanya sekarang, bahwa gubuk ini memang berisi orang-orang
yang berbahaya.” (berkata dengan tegas)
Novi : “Baiklah. Manda dan Ilham
sebaiknya kalian pergi menemui Alivia dan yang lainnya. Aku dan Nadevan akan
memantau keadaan di sini.” (berkata dengan nada sedikit bergetar)
Ilham : “Oke. Kalian jaga diri di
sini ya. Hati-hati, jangan sampai tertangkap.”
Akhirnya
Ilham dan Manda bergegas kembali ke perkemahan.
(Di
Perkemahan)
Bitta : “Sudah, jangan menangis
terus liv. Memang, keadaan ini berat untukmu. Tapi jangan sampai membuatmu
berlarut-larut dalam kesedihan.” (sambil mengelus punggung Alivia)
Salsa : “Kita pasti akan
menemukan jalan terbaik kok” (dengan nada menenangkan)
Alivia : (mengelap air mata)
(pundak bergetar) “I.. Iya.. Terimakasih teman-teman.”
Alda : “Lihat! Mengapa Manda
dan Ilham berlari dengan tergesa-gesa seperti itu? Apa yang terjadi?” (bertanya
dengan nada kebingungan) (menunjuk ke arah hutan)
(Alivia,
Bitta, Salsa menoleh ke arah yang ditunjuk Alda)
Manda : “Semuanya..... Hhh.. hh”
(berbicara dengan nafas tersenggal) “Gawat... Hhh.. hh.. Nabil.. hh.. hh..”
Alivia : (raut wajah khawatir)
“Ada apa, nda? Tenangkan dirimu dulu, kau tidak akan bisa berbicara dengan
jelas dalam keadaan seperti ini!”
Ilham : “Nabil dan Kevin
tertangkap oleh penculik itu!” (memotong pembicaraan Manda dan Alivia) (dengan
nada naik satu oktaf)
Salsa,
Bitta&Alda : “Apa???!!!!”
(berteriak histeris)
Alivia : (menutup wajahnya dengan
kedua tangan) (mulai menangis) “Maafkan aku, semuanya. Kalian sampai terlibat
masalah sebesar ini karena aku. Maafkan.. huhuhu” (terisak)
Manda : “Sudahlah, liv.. Tidak ada
gunanya menyalahkan diri sendiri. Sekarang kita harus menyusun strategi untuk
membebaskan adikmu, Nabil dan Kevin.” (dengan nada menenangkan)
(Salsa
dan Bitta memeluk Alivia)
Salsa : “Sudahlah, liv. Itu
bukan sepenuhnya salahmu. Toh ini kejadian yang tidak terduga, selain itu kita
juga sudah berjanji akan ikut menjaga adikmu selama kita kemah kan?!” (tersenyum
kepada Alivia)
Bitta : “Iya, benar. Sudah
jangan nangis” (mengelap air mata Alivia)
Ilham : “Ah! Aku dapat ide!”
(menepukkan kedua tangannya) “Sebenarnya ini cukup beresiko. Bagaimana kalau
aku dan Manda akan mencoba mengalihkan perhatian si penculik di depan gubuk
itu? Lalu Alivia dan Salsa langsung masuk ke dalam gubuk untuk menyelamatkan
Elsa. Bitta bisa menjaga di luar gubuk untuk melihat situasi siapa tahu di
sekitar situ masih ada komplotan penculik tersebut. Alda, kamu tetap di sini
untuk menunggu Pak Yadi dan menunggu kabar selanjutnya. Aku tahu ini beresiko
cukup besar untukku dan Manda. Tapi inilah satu-satunya jalan yang bisa kita
ambil!” (berkata dengan tegas)
Manda : “Aku setuju dengan Ilham.
Dan seperti kata Salsa, kita sudah berjanji untuk menjaga Elsa bersama-sama
jadi segala konsekuensi kita harus berani tanggung.” (berbicara dengan nada
serius)
Alivia : “Tidak.. Aku tidak ingin
mengorbankan teman-temanku lagi! Mengapa kita tidak menunggu Pak Yadi saja baru
kita menggerebek gubuk itu?” (dengan nada menentang)
Salsa : “Kita tidak punya banyak
waktu liv, namun kita juga tidak boleh gegabah.. Tapi itu adalah satu-satunya
jalan yang kita miliki. Kita nggak tau bahaya apa yang mengancam Elsa, Nabil,
dan Kevin di dalam sana! Jika kita tidak segera bertindak, keselamatan mereka
mungkin akan terancam.” (berkata dengan suara tegas)
Bitta : “Aku setuju dengan ide
Ilham. Bagaimanapun yang kita butuhkan sekarang adalah kerja sama tim. Masalah
keselamatan memang tidak terjamin, tapi tidak ada salahnya kita menjalankan
strategi ini.” (menoleh kepada Alda) “Bagaimana, Da? Apakah kamu setuju?”
Alda : “Aku setuju. Aku akan
mengawasi keadaan di sini dan menunggu Pak Yadi. Selain itu aku akan memberi
kabar kepada Bu Mar agar Bu Mar dapat meminta bantuan ke lainnya.” (berkata
dengan nada semangat)
Alivia : (menghela nafas) “Baiklah
kalau begitu. Ayo kita berangkat”
Mereka
pun berjalan menuju gubuk itu tanpa mempedulikan bahaya apa yang
menunggu
mereka di sana..
(Sesampainya
di gubuk)
Manda : “Aku dan Ilham akan membuat
keributan untuk memancing penculik itu keluar. Alivia, Bitta, Salsa, kalian
sembunyi di balik semak-semak ini dahulu sampai aku dan Ilham berhasil
memancing dia. Untuk Alivia dan Salsa, ingat satu hal; Kalian harus secepatnya
masuk ke dalam gubuk itu tanpa sepengetahuan mereka karena kita tidak mungkin
mendapat kesempatan yang sama dua kali! Bitta kamu tetap jaga di sini dan
memantau keadaan. Kalau bisa tolong foto secara diam-diam kejadian ini untuk
dijadikan barang bukti.”
Semuanya : “Siap!”
(Di
dalam hutan)
Halila : (berlari) “Ayo, Aji,
Diego! Kita harus cepat menemui Pak Yadi! Kalau tidak hal-hal yang tidak kita
inginkan bisa terjadi!!” (hampir berteriak histeris)
Diego : “Hhh.. Iya.. Sebentarlil,
nafasku udah nggak kuat... Hhh.. Hhh...” (nafas tersenggal-senggal) (masih
tetap berlari)
Aji : “Aku benar-benar
nggak nyangka kalau mereka pelakunya!!” (sedikit histeris)
Diego : “Bagaimanapun juga itulah
kenyataannya. Dan aku yakin itu memang mobil mereka karena plat nomornya persis
dengan apa yang aku ingat” (memasang tampang serius)
Halila : “Hh.. Hhh.. Kita sudah sampai..”
(nafas tersenggal-senggal) “Ayo kita cari Pak Yadi”
Aji : “Ah! Itu dia!”
(menunjuk ke arah pria berjaket cokelat)
Aji,Halila&Diego : “Pak Yadiiiiii” (berlari menuju pria itu)
Pak
Yadi : “Ada apa anak-anak?
Mengapa kalian ke sini juga? Bukankah Bu Mar telah memberikan kalian tugas?”
(memasang wajah heran dan kesal)
Aji : “Begini, Pak. Saat
kami memeriksa gazebo dekat gubuk itu, Diego menemukan barang bukti yang
penting.” (sambil menunjuk ke arah Diego)
Pak
Yadi : “Benarkah itu,
Diego?” (kaget)
Diego : “Ya, Pak. Jadi begini
ceritanya...” (menceritakan kejadian dengan detail)
Pak
Yadi : “Begitu rupanya..”
(dengan nada sedikit kaget) “Pantas saja mereka minta ijin selama kita
mengadakan kegiatan ini. Baiklah, saya akan mengkordinir polisi dan memanggil
murid PMR untuk menangani siswa yang terluka. Kalian tunggu sini bersama saya
dan jangan berpencar!”
Semua : “Baik, Pak!”
Halila : “Apakah ini hanya
perasaanku atau sepertinya sesuatu telah terjadi terhadap mereka?” (berkata
dengan lirih) (badan sedikit gemetar)
Aji : “Hush, jauhkan
pikiran buruk itu darimu! Kita hanya bisa berdoa sekarang. Aku harap tidak ada
sesuatu yang membahayakan nyawa mereka.” (berkata dengan raut muka serius namun
khawatir)
Diego : (mengangguk memberi
persetujuan) (menatap ke dalam hutan) (berkata dengan suara rendah) “Aku harap
kalian baik-baik saja..”
(Di
dalam gubuk)
(Terdengar
keributan dari luar)
Penculik
1 : “Ada apa lagi ini???”
(menggerutu) “Jangan bilang teman-temanmu yang lain ada di sekitar sini juga!?”
(melirik Nabil dengan sinis)
Nabil : (menggeleng dengan lemah)
Penculik
1 : “Jangan bohong!”
(menendang Nabil dengan keras)
Nabil : “AAARRGHHH!!!!”
(memegangi tulang iganya)
Penculik
1 : “He, kamu! Jaga anak-anak
ini jangan sampai lepas! Aku akan membereskan sisanya di luar.” (berkata pada
penculik 2)
Penculik
2 : “Baik bos!” (memalingkan
wajah ke Nabil dan Kevin) “Hehehehe.. Sakit ya, bocah kecil? Makanya jadi anak
nggak usah sok sok berani. Akibatnya benar-benar nggak terduga kan hahahaha”
(tertawa dengan keras)
Kevin : “Grrrrr” (menggeram)
Nabil : (kaget) (berkata dalam
hati) “Suara ini...... Aku benar-benar mengenalnya! Tidak salah lagi, mereka
adalah orang-orang yang bekerja di sekolah kami!”
(Di
luar gubuk)
Penculik
1 : “Wah wah wah.. Kalian
teman anak yang punya tai lalat di bawah matanya dan anak berkacamata itu, ya?
Kalian di sini mau berperan sebagai pahlawan untuk menyelamatkan mereka, ha?
Hahahaha, kemari jika kalian berani!” (berteriak dengan nada menantang)
Ilham : (Sudah mengepalkan
tangannya) (Tiba-tiba Manda maju menghalangi Ilham)
Manda : “Mau kalian apa sekarang?
Apa maksud kalian dari menculik Elsa dan sampai menyakiti Nabil dan Kevin!?”
(bertanya dengan baik-baik)
Penculik
1 : “Baiklah akan aku
jelaskan. Aku menculik gadis kecil itu untuk mengambil kalung permatanya, namun
ternyata kalung itu sedang tidak ada bersamanya saat ini. Malangnya anak itu
telah mengetahui wajah kami, jadi dia tidak akan kami biarkan hidup terlalu
lama.” (menjelaskan sambil berkacak pinggang) “Dan hal yang sama akan berlaku pada
kalian, bocah! Hahahahaha!!” (maju melawan Manda dan Ilham)
(Alivia mendengar
percakapan itu di balik semak-semak dan menggeleng tidak percaya. Jadi kalung
itulah yang menyebabkan semua orang berada dalam bahaya)
Salsa : “Sekarang waktunya, liv!
Manda dan Ilham telah mengalihkan perhatian penculik itu. Sekarang mereka
sedang berduel di samping gubuk. Bit, kita tinggal dulu ya!” (sambil menarik
lengan Alivia)
Alivia : “Ayo. Bit, hati-hati di
sini.” (berjalan menuju pintu gubuk yang tidak terjaga)
(Di
dalam gubuk)
Alivia : “Gubuk ini sungguh
pengap! Di mana penculik itu menyembunyikan Elsa!?” (dengan berbisik)
Salsa : (memperhatikan
sekeliling) (mendesis) “Nabil... Kevin.. ??” (berjalan menuju kaca pintu dapur)
Alivia : (mengikuti Salsa)
“Ternyata kalian di sini!! Sebentar aku akan mengeluarkan kalian.” (memutar
kunci yang menggantung di pintu dapur) (membuka pintu dapur dengan perlahan)
Salsa : “Ya Allah, Nabil..
Kevin.. Memar dan luka kalian parah sekali!?!” (mengeluarkan tisu dan
membersihkan luka pada Kevin dan Nabil)
Alivia : (membantu Salsa
membersihkan luka Nabil) “Elsa di mana, bil? Apakah dia berada di ruangan yang
berbeda?” (dengan nada cemas)
Nabil : “Elsa ada di... Uhuk!!”
(batuk dan mengeluarkan darah akibat kesakitan setelah ditendang oleh penculik
1)
Kevin : “Elsa ada di ruangan
sebelah, Liv, Sal. Tapi di situ ada penculik lainnya. Kalian harus hati-hati!
Mereka tidak main-main dalam mencelakakan kita!” (terang kevin dengan nada
sedikit takut)
(dari luar pintu dapur)
Penculik
2 : “Ada apa ini kok
ribut-ribut??” (berjalan menuju pintu dapur) “Hah? Kenapa bisa terbuka? Siapa
yang membuka kuncinya??” (membuka pintu dapur lebih lebar)
(Nabil,
Kevin, Alivia, Salsa duduk gemetaran ketika mereka ketahuan)
Penculik
2 : “Wah wah.. Sepertinya semakin
banyak tikus yang terperangkap di sini. Bagaimana jika kalian kubereskan
sekarang juga? Bos pasti tidak akan marah meski aku telah membunuh kalian
sebelum dia memerintah.” (maju membawa pisau)
(Nabil
maju melindungi Kevin, Alivia dan Bitta meski badannya penuh luka)
Penculik
2 : “Oh anak bertai lalat,
sepertinya kamu mau mati duluan ya. Hahaha, baiklah kalau begitu. Ini tidak
sakit kok” (mengayunkan pisau ke Nabil)
Nabil : (memejamkan mata) (tidak
ada yang mengenai tubuhnya) (membuka matanya) (parang yang dipegang Salsa
mencegah pisau si penculik 2)
Penculik
2 : “Wah kamu sepertinya
berani menantang ya, sampai membawa senjata juga.” (memandang ke arah Salsa)
Kevin : “Dari mana kau dapatkan
parang itu?” (heran)
Salsa : “Aku membawanya dari
tenda untuk alat pertahanan diri.” (dengan nada datar)
Penculik
2 : “Baiklah, gadis
berkacamata. Maju by one denganku sekarang. Kita lihat siapa yang lebih
unggul!” (nada menantang)
Salsa : (berbisik ke Alivia)
“Aku akan mengalihkan perhatiannya, kamu segera menuju ke ruangan tempat Elsa
berada.”
Alivia : “Tapi...” (dengan nada
ragu)
Salsa : “Sudah, jangan
khawatirkan aku! Cepat pergi!” (dengan nada mendesak)
Alivia : (mengangguk)
(Salsa
dan Penculik 2 berjalan menuju ruang tengah untuk berduel)
Penculik
2 : “Hei kamu, dengan badan
seperti itu kamu tidak akan bisa bergerak seluwes aku dan jelas-jelas aku yang
akan menang hahahahahaaha” (dengan nada mengejek)
Salsa : (berkata dalam hati)
Sebaiknya kamu ngaca dengan badanmu sendiri sebelum mengatai orang lain.
Salsa
dan Penculik 2 mulai berduel sedangkan Alivia
berjalan perlahan menuju
ruangan
di mana Elsa berada.
(di
samping gubuk)
Penculik
1 : “Ternyata kalian luwes
dan tangguh juga ya. Berbeda dengan 2 temanmu yang lain.” (sambil mengelap
keringat di dahinya)
Manda : “Sudahlah, kita selesaikan
ini secara baik-baik kan bisa!” (berjalan terhuyung-huyung karena kehabisan
tenaga)
Ilham : “Cepat bebaskan Nabil dan
lainnya! Heaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!” (mulai menyerang penculik 1 lagi)
Penculik
1 : (dengan mudah menghindar)
“Aku akui kalian memang kuat, tapi stamina kalian sekarang sudah berkurang.
Hahahaha jangan cari mati, kalian hanya buang-buang tenaga di sini.
Bagaimanapun kalian hanya anak kecil, kekuatan kalian belum sebanding
denganku!” (berkata dengan nada sombong) (menyerang Ilham balik)
Ilham : (tidak dapat menghindar)
(terpental mengenai tembok gubuk) “Akh.... Orang ini benar-benar kuat!!”
Penculik
1 : “Yang ini sudah
beres........ Berarti tinggal yang satu ini.” (menoleh ke arah Manda) “Bocah
ini sepertinya memang sangat kuat, jadi tak ada salahnya jika aku mencoba alat
ini. Hahaha” (mengeluarkan stun gun dari sakunya) (menyengat leher Manda dengan
stun gun)
Manda : “Ti....dak..” (pingsan)
(jatuh terjerembab)
Ilham : “Manda!!!! Cih, kurang
ajar.................” (terkena sengatan stun gun dari pencuri 1) (pingsan)
Pencuri
1 : “Ckckck. Dasar, masih
kelas 9 saja sudah menyusahkan begini!” (menyeret Ilham dan Nabil ke dalam
gubuk)
(di
dalam gubuk)
Alivia : “Elsaaa.. Elsaa... Kamu
di mana???” (berkeliling gubuk)
Elsa : (membuka matanya) “Kak
Alivia? Kakak?? Kaak, aku di sini kakak!!! Huhuhuhuhu” (mulai menangis)
Alivia : (berlari ke sumber suara)
“Elsaaaaa. Ya Allah Elsaa, kamu nggak apa-apa, kan? Kamu nggak terluka kan?”
(menangis dan memeluk Elsa)
Elsa : “Aku nggak apa-apa
kak.. Bagaimana dua penculik itu? Apa mereka sudah ditangkap polisi?” (mengusap
air matanya)
Alivia : “Belum, Sa. Tapi
teman-teman kakak sedang berusaha mengalihkan perhatian mereka.” (dengan nada
lirih)
(di seberang ruangan)
Penculik
2 : “Cih! Gadis ini ternyata
tidak bisa diremehkan begitu saja! Hhh... hhhh” (mulai kehabisan nafas)
Salsa : “Hhhh... hhhh”
(kehabisan nafas) (lelah)
(suara
pintu dibuka)
Penculik
1 : “Hei ada apa ini kok
ramai sekali?” (diam sejenak) (kaget melihat kehadiran Salsa)
Penculik
2 : “Lihat bos, gadis ini dan
gadis satunya yang sepertinya kakak dari bocah cilik itu telah menyusup
kemari!” (sambil menuding Salsa)
Penculik
1 : “Kurang ajar! Jadi dua
bocah ini hanya sebagai umpan hah!?” (melempar Ilham dan Manda ke dalam dapur)
“Di mana gadis satunya? Jangan bilang kalau dia................” (berlari ke
ruangan di mana Elsa disekap)
Salsa : (terpaku pada sosok
penculik 1) (berkata dalam hati) Sepertinya aku mengenali suara ini.... Tapi di
mana??? (lengah)
Penculik
2 : “Akhirnya kau lengah
juga, hahaha!! Kenapa kau memandangi bosku seperti itu? Apa karena dia terlalu
ganteng sepertiku? Huahahahahaha!!!” (tertawa seraya mengempit leher Salsa
dengan kuat)
Salsa : “Jangan konyol!
Bagaimana aku bisa tau dia ganteng atau tidak jika ia memakai penutup wajah
seperti itu?! Lepaskan aku dari ketiakmu gaaaaaaahhh!!!!!!” (meronta-ronta)
(di
dalam ruangan di mana Elsa dan Alivia berada)
Penculik
1 : (bertepuk tangan) “Plok
plok plok... Harus kuakui kalian semua memang hebat, bisa melacak dan bertindak
sejauh ini. Tapi sayang sekali kalian tidak sekuat itu untuk dapat
mengalahkanku dengan anak buahku.” (tersenyum sinis)
Alivia : “Apa yang kau inginkan?!”
(menatap penculik 1 dengan sinis)
Penculik
1 : “Oh, bukan sesuatu yang
besar. Hanya kalung permata yang dimiliki adikmu. Sayang sekali ia tidak
membawanya, dan ia telah mengetahui wajah kami maka ia sudah sepantasnya mati,
hahahahaha. Kalau kau ingin mati bersamanya, dengan senang hati akan kulakukan,
nona manis” (berjalan mendekati Alivia)
Alivia : (memandang dengan jijik)
“Apa yang akan kaulakukan jika kau telah mendapatkan kalung itu?!” (setengah
berteriak)
Penculik
1 : “Mudah saja, aku akan
membebaskan kalian semua kecuali adik manismu itu. Seperti yang telah kukatakan,
ia telah mengetahui wajah kami. Sehingga kami tidak akan membiarkan ia hidup
lebih lama.” (bersedekap dan tersenyum sinis)
Alivia
pun bingung apa yang harus ia lakukan. Ia benar-benar telah dihadapkan
dengan
pilihan yang berat. Sementara
itu, Pak Yadi dan lainnya telah
memanggil
polisi, serta anggota PMR
untuk
menyelamatkan Alivia dkk. Mereka
telah
bergegas menuju gubuk yang
dipenuhi
terror tersebut.
Pak
Polisi : “Di mana letak
gubuk tersebut, Pak?” (dengan nada tegas)
Pak
Yadi : “Lurus terus saja, Pak.
Kita sudah dekat.” (sambil memimpin pasukan PMR ke arah gubuk tersebut)
Bu
Maryati : “Benarkah Pak bahwa
yang menculik Elsa adalah Pak Vidy dan Pak Rasyid?” (bertanya kepada Pak Yadi)
(dengan nada sedikit tidak percaya)
Pak
Yadi : “Ya, tidak diragukan
lagi itu adalah mereka. Dari cerita yang dipaparkan Diego tadi mengenai mobil
yang mereka lihat di gazebo tersebut mirip dengan ciri-ciri mobil Pak Vidy
serta plat nomornya sama. Selain itu, saya telah bertanya ke Pak Langgeng yang
tinggal di dekat rumah mereka apakah Pak Vidy dan Pak Rasyid nampak di sekitar
situ, dan jawabannya cukup mengejutkan. Pak Langgeng berkata bahwa Pak Vidy
kemarin sempat bercerita bahwa ia akan pergi ke luar kota hari ini sampai besok
dengan Pak Rasyid, lalu ketika Pak Langgeng menanyakan di mana tempat yang akan
mereka kunjungi, Pak Rasyid sepertinya keceplosan menjawab Pacet. Sudah
terlihat bahwa Pak Vidy menyembunyikan tentang tempat yang akan ia kunjungi
karena saat Pak Rasyid menyebut Kota Pacet, raut muk Pak Vidy langsung berubah
dan seketika ia menyikut perut Pak Rasyid. Hal ini sudah cukup menjelaskan
bahwa Pak Vidy dan Pak Rasyid adalah tersangka utama. Di tambah lagi, menurut
kesaksian seoran murid, ia melihat mobil dengan ciri-ciri yang sama dengan yang
dikatakan Diego tadi membututi bis kita tadi pagi. Karena murid itu menganggap
mobil tersebut hanya mobil biasa yang mempunyai tujuan sama dengan kita maka ia
tidak mempedulikan hal itu.” (jelasnya dengan nada serius, dan sedikit kesal)
Bu
Maryati : “Saya benar-benar
tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Bagaimanapun juga, Pak Rasyid
tidak terlihat sebagai tampang orang yang akan melakukan kriminalitas. Namun
jika Pak Vidy mungkin masih sedikit meyakinkan, namun sikapnya mereka berdua
sungguh sopan dan baik selama bekerja di sekolahan kita. Saya berprasangka
selama ini bahwa mereka adalah orang yang dapat kita percayai namun
kenyataannya sungguh berbeda. Dunia ini memang penuh dengan orang-orang yang
susah dipahami.” (dengan nada heran dan kecewa)
Pak
Polisi : “Justru itulah pelajaran
yang dapat kita ambil dari kejadian ini. Kita tidak dapat menilai seseorang
melalui penampilannya.
Tidak semua orang yang berwajah baik itu baik dan tidak semua orang yang
wajanya tidak rupawan itu buruk. Seperti kata kebanyakan orang; ‘don’t judge a book by its cover’.
Begitupula dengan ucapan seseorang, kita tidak dapat semudah itu mempercayai
perkataan seseorang ataupun gerak-gerik mereka meskipun itu terlihat manis
dan baik. Dan kita tidak boleh menilai
sesuatu melalui prasangka. Kita harus benar-benar teliti dan mencermati apapun
yang ada di sekitar kita, jangan menilai seseorang secara instan sebelum kita
mengenal mereka lebih jauh.”
Pak
Vidy adalah kuli bangunan yang bekerja di sekolah Alivia, sedangkan Pak
Rasyid
adalah tukang kebun sekolah. Ternyata identitas para penculik itu
adalah
mereka! Sungguh tidak terduga.
(di
depan gubuk)
Pak
Yadi : “Ini Pak gubuknya!”
(sambil menunjuk gubuk tersebut)
Pak
Polisi : “Baik, dalam
hitungan ketiga kita akan menggerebek gubuk ini. Satu... Dua... Tiga... !!!”
(memberi komando ke yang lain)
Para
polisi pun akhirnya menggerebek gubuk tersebut dan menangkap Penculik
1
yang ternyata adalah Pak Vidy (ketua atas tindakan kriminal tersebut) dan
penculik
2 adalah Pak Rasyid. Motif mereka menculik Elsa adalah untuk
mencuri
kalung permata yang Elsa miliki dan akan mereka jual untuk
kebutuhan
finansial mereka. Mereka mengetahui tentang kalung Elsa karena
sering
melihat Elsa mengenakan kalung itu saat menjemput Alivia di
sekolahnya.
Akhirnya mereka berdua digiring ke kantor polisi dan akan
diberikan
hukuman yang setimpal.
Nabil,
Kevin, Ilham, Manda dan Salsa akhirnya dibawa oleh anggota PMR
untuk
diobati. Terutama Nabil, ia harus dibawa ke rumah sakit karena tulang
iganya
banyak yang patah karena ditendang oleh Pak Vidy.
Alivia : “Pak Yadi, Bu Mar dan
teman-teman semuanya maaafkan aku dan adikku ya. Karena kami, kalian telah
terlibat sampai sejauh ini. Bahkan banyak anak yang terluka juga.” (menundukkan
kepala dan berbicara dengan nada sedih)
Bu
Maryati : “Iya, nggak apa-apa
Alivia. Yang penting semua sudah berakhir dengan bahagia.” (tersenyum)
Pak
Yadi : “Lagipula banyak hal
yang dapat kita pelajari dari hal ini. Betul atau betul, anak-anak???”
(tertawa)
Bitta&Alda : “Betul paaaak! Hahahaha” (tertawa
bersama-sama)
Terimakasih
Sudah Membaca