Rabu, 13 Februari 2013

TIK 9B-04


UNAS 2013 JUJUR  DAN BERPRESTASI

JAMBI – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh benar-benar geregetan terhadap ulah sejumlah kepada daerah yang tega memanfaatkan pelaksanaan ujian nasional (unas)sebagai alat politik. Kepala daerah sering menekan kepala sekolah supaya sisiwanya lulus 100 persen. Tapi,itu diniati untuk mendongkrak popularitas politik di mata masyarakat.
Dalam kunjungan deklarasi Ikrar Unas Jujur dan Berprestasi di Jambi kemarin (9/2), Nuh mengngatkan pada kepala daerah agar tidak lagi mengintervasi unas untuk kepentingan politik. “Mari kita bertekad, sudah bukan eranya bupati dan wali kota menekan kepala sekolah,”tegasnya. Nuh berharap tidak ada lagi kasus kebocoran soal atau contek masal. Entah itu didasari tekanan kepala daerah maupun penyabab lain. Sebab,kejujuran pelaksanaan unas merupakan tanatngan yang cu8kup berat. “Tapi,tetap haru dijalankan
Kepada kepala sekolah, menteri asal Surabaya itu berpesan supaya mereka bisa menjalankan unas jujur. Mumpung masih ada waktu,kepala sekolah bisa menjlankan program untuk menggenjot kemampuan akadenis siswa. Mulai pemberian materi tambahana hingga latihan-latihan soal. “Guru boleh menyebar kunci jawaban, tapi khusus latihan soal unas, “ungkapnya. 

Senin, 21 Januari 2013

Rahasia Salat



RAHASIA SHOLAT DI AWAL WAKTU

Rasulullah saw bersabda: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah sholat pada waktunya, berbakti kepada kedua orang tua, kemudian jihad di jalan Allah SWT.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18897]

Sholat adalah ibadah utama seorang muslim dan ini merupakan jembatan utama komunikasi langsung antara umat dan Penciptanya (Allah Swt).
Ternyata dari waktu sholat yang 5 waktu itu banyak hikmah yang kita bisa dapatkan dilihat dari faktor kesehatan, ilmu pengetahuan, psikologi dan lain-lain. Berikut pengamatan para ahli di bidangnya mengenai masalah waktu sholat, salah satu rukun Islam, karena ada rahasia di balik peralihan/perpindahan waktu sholat.

Setiap perpindahan/peralihan waktu sholat sebenarnya bersamaan dengan terjadinya perubahan tenaga alam yang bisa diukur dan dirasakan melalui perubahan warna alam. Fenomena perubahan warna alam ini tidak asing bagi penggemar dan praktisi fotografi/video/film juga dalam industri cahaya/lampu, percetakan, astrofisika dan lain-lain karena ada istilah suhu/temperatur warna (color temperature) di mana kalau siang itu bluish (kebiru-biruan) dan kalau sore itu reddish (kemerah-merahan). Suhu warna biasanya menggunakan satuan Kelvin (K) sebagai perangkat pengukurannya.

1.> WAKTU SUBUH

Pada waktu subuh, alam berada dalam spectrum warna biru muda yang bersesuaian dengan frekuensi tiroid (kelenjar gondok). Dalam ilmu Fisiologi (Ilmu Faal-salah satu dari ilmu biologi yang mempelajari berlangsungnya sistem kehidupan) tiroid mempunyai pengaruh terhadap sistem metabolisma tubuh manusia. Warna biru muda juga mempunyai rahasia tersendiri berkaitan dengan rejeki dan cara berkomunikasi. Mereka yang masih tertidur nyenyak pada waktu Subuh akan menghadapi masalah rezeki dan komunikasi. Mengapa? Karena tiroid tidak dapat menyerap tenaga biru muda di alam ketika roh dan jasad masih tertidur. Pada saat azan subuh berkumandang, tenaga alam ini berada pada tingkatan optimum. Tenaga inilah yang kemudian diserap oleh tubuh kita terutama pada waktu ruku dan sujud.

2.> WAKTU DZUHUR

Alam berubah menguning dan ini berpengaruh kepada perut dan sistem pencernaan manusia secara keseluruhan. Warna ini juga punya pengaruh terhadap hati. Warna kuning ini mempunyai rahasia berkaitan dengan keceriaan seseorang. Jadi bagi mereka yang selalu ketinggalan atau melewatkan sholat Dzhur berulang kali akan menghadapi masalah dalam sistem pencernaan serta berkurang keceriaannya.

3.> WAKTU ASHAR

Alam berubah lagi warnanya menjadi jingga/oranye (warna antara merah dan kuning). Hal ini berpengaruh cukup signifikan terhadap organ tubuh yaitu prostat (kelenjar eksorin pada pria jantan, fungsi utamanya adalah untuk mengeluarkan dan menyimpan sejenis cairan yang menjadi dua pertiga bagian dari air mani), rahim, ovarium/indung telur (kelenjar kelamin wanita), dan testis (kelenjar kelamin jantan) yang merupakan sistem reproduksi secara keseluruhan. Warna oranye di alam juga mempengaruhi kreativitas seseorang. Orang yang sering ketinggalan waktu Ashar akan menurun daya kreativitasnya. Di samping itu organ-organ reproduksi ini juga akan kehilangan tenaga positif dari warna alam tersebut.

4.> WAKTU MAGHRIB

Warna alam kembali berubah menjadi merah. Sering pada waktu ini kita mendengar banyak nasehat orang tua agar tidak berada di luar rumah. Nasehat tersebut ada benarnya karena pada saat Maghrib tiba, spektrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis. Pada waktu ini jin dan iblis amat bertenaga (powerful) karena mereka bergema atau ikut bergetar dengan warna alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan sebaiknya berhenti sejenak dan mengerjakan sholat Maghrib terlebih dahulu. Hal ini lebih baik dan lebih selamat karena pada waktu ini banyak gangguan (interferensi-interaksi antar gelombang dalam satu daerah-bisa membangun dan merusak) atau terjadi tumpang-tindih dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama atau hampir sama dan bisa menimbulkan fatamorgana yang bisa mengganggu mata(penglihatan) kita.

5.> WAKTU ISYA

Selanjutnya pada waktu ini warna alam berubah menjadi nila (indigo) dan selanjutnya menjadi gelap. Waktu Isya mempunyai rahasia ketenteraman dan kedamaian yang frekuensinya sesuai dengan sistem kontrol otak. Mereka yang sering ketinggalan waktu Isya akan sering merasa gelisah. Untuk itulah ketika alam mulai diselimuti kegelapan, kita dianjurkan untuk mengistirahatkan tubuh ini. Dengan tidur pada waktu ini, keadaan jiwa kita berada pada gelombang Delta dengan frekuensi dibawah 4HZ (Hertz adalah satuan ukur untuk frekuensi) dan seluruh sistem tubuh memasuki waktu rehat. Selepas tengah malam, alam mulai bersinar kembali dengan warna-warna putih, merah jambu dan kemudian ungu. Perubahan warna ini selaras dengan kelenjar pineal (badan pineal atau “mata ketiga”, sebuah kelenjar endokrin pada otak)kelenjar pituitary (hipofisis), thalamus (struktur simetris garis tengah dipasangkan dalam otak vertebrata termasuk manusia dan fungsinya mencakup sensasi menyampaikan, rasa khusus dan sinyal motor ke korteks serebral, bersama dengan pengaturan kesadaran, tidur dan kewaspadaan) dan hypothalamus(hipotalamus-bagian otak yang terdiri dari sejumlah nucleus dengan berbagai fungsi yang sangat peka terhadap steroid, glukokortikoid, glukosa dan suhu). Maka sebaiknya kita bangun lagi pada waktu ini untuk mengerjakan sholat malam (tahajud).

Subhanallah... Indahnya Islam...

Demikianlah ringkas hubungan antara waktu shalat dengan warna alam. Manusia sebaiknya sadar akan pentingnya tenaga alam. Faktor-faktor inilah yang mendasar kegiatan meditasi seperti taichi, qi-gong dan sebagainya. Kegiatan meditasi ini dilakukan untuk menyerap tenaga-tenaga alam ke sistem tubuh. Kita sebagai umat Islam sepatutnya bersyukur karena telah di’karuniakan’ syariat shalat oleh Allah SWT sehingga jika laksanakan sesuai aturan, maka secara tak sadar kita telah menyerap tenaga alam ini. Ini mungkin belum pernah terfikir oleh kita sebelumnya.

Inilah hakikat mengapa Allah SWT yang memiliki sifat Pengasih dan Penyayang mewajibkan sholat kepada kita sebagai hambaNYA. Sebagai Pencipta Allah swt mengetahui bahwa hambaNYA amat sangat memerlukan-Nya. Sholat di awal waktu akan membuat badan semakin sehat. 

Semoga informasi ini dapat menambah semangat kita untuk melaksanakan sholat tepat pada waktunya, dan bersegera ke mesjid bagi kaum Aadam... :)

Wallahu a'lam bishawab


=====

Follow twitter: @kutipanhikmah

Drama


Misteri Rafting Pacet

( Siang itu di kelas 9b)

Bu Maryati            : “Ass. Wr Wb, anak-anak minggu depan sekolah kita akan mengadakan rafting di Pacet dalam rangka kegiatan tengah semester. Jadi, ibu minta kalian untuk mencatat barang apa saja yang harus dibawa.” (dengan bersemangat)

(Sementara itu sekelompok anak berkumpul di belakang kelas sambil
membicarakan sesuatu)

Alivia                     : “Salsa,Bitta,Alda aku ingin ngomong sesuatu nih. Minggu depan orang tuaku ada dinas di Jepang. Jadi, adikku ingin ikut KTS kita, gimana?”
Salsa                      : “Kalau menurutku sih nggak apa-apa adikmu ikut, kita bisa jaga dia bersama-sama kan. Yang penting kamu izin dulu sama Bu Mar.”
Bitta                      : “Iya Liv, aku setuju sama Salsa.”
Alivia                     : “Hmm, oke kalau gitu.” (sambil tersenyum)
Alda                      : “Eh ayo kita catat dulu barang-barang yang harus dibawa.” (lalu menuju ke tempat duduknya)

(Setelah itu mereka berempat segera duduk ditempat mereka. Sepulang
sekolah Alivia meminta izin kepada Bu Maryati, dan beliau mengizinkan)

(Kamar Alivia)

Alivia                     : “Dek, kata guru kakak kamu boleh ikut. Yang penting kamu jangan bawel ya disana.”
Elsa                       : “Siap kak, ayo kita segera bersiap-siap.”

(Sabtu pagi di aula SMP Negeri 19)

Pak Yadi                : “Ayo anak-anak segera membentuk barisan sesuai kelasnya masing-masing, 15 menit lagi kita akan berangkat.”
Murid-murid          : “Baik, Pak.” (menjawab serentak)

( 15 menit kemudian, semua murid menuju bis mereka masing-masing. Elsa
duduk dengan Alivia, Bitta dengan Salsa, dan Alda)

Bu Maryati            : “Baik anak-anak. Sebelum kita berangkat mari kita berdoa terlebih dahulu.” (semua murid berdoa dengan khidmat)

( 2 jam kemudian mereka semua sampai di salah satu area rafting di Pacet.
Rencananya siang itu mereka akan melakukan rafting dan malamnya mereka
akan mendirikan tenda di sekitar area)

Pak Yadi                : “Anak-anak, sekarang cepat dirikan tenda sesuai kelompok dan kalau sudah selesai cepat berkumpul di pinggir sungai.”
Seluruh murid         : “Iya Pak.” (sambil bersemangat)

( Salsa, Alivia, Bitta,dan Elsa segera mendirikan tenda dan memasukkan barang-
Barang. Setelah itu mereka mulai rafting)
( Hari sudah semakin malam, semua murid sudah berkumpul untuk membuat
api unggun)

Elsa                       : “Kak, Elsa mau balik ke tenda sebentar ya. Elsa mau ambil jaket. Aku titip kalung ke kakak ya?” (sambil melepas kalung dan memberikan kalungnya kepada Alivia)
Alivia                     : “Kamu berani sendirian? atau mau kakak antar?”
Elsa                       : “Nggak usah kak,  Elsa berani kok.” (sambil menyalakan senter dan meninggalkan Alivia)

( Dari kejauhan tampak 2 orang laki-laki yang mengamati Elsa dengan cermat,
setelah mereka berdua melihat Elsa berjalan sendirian ke tenda, penculik 1 dan penculik 2 segera melakukan aksinya)

Penculik 1              : “Dalam hitungan ketiga ayo kita culik dia.”
Penculik 2              : “Baik 1...2...3!”
Elsa                       : “Tolong.... Tolong lepaskan aku!” (sambil berusaha menendang-nendang kaki si penculik)
Penculik 1              : “Sudah! Jangan teriak-teriak.. Percuma kamu teriak, disini tidak ada yang bisa mendengarmu hahaha...
                             Cepat ikat kakinya. Lalu cepat bawa ke tempat persembunyian kita.”
Penculik 2              : “Siap !”
(Tanpa sepengetahuan mereka, Elsa menjatuhkan satu demi satu
permen yang ia bawa untuk memberi jejak)

Elsa                       : “Semoga kak Alivia dan teman-temannya dapat menemukan dan menyelamatkanku.” (sambil menjatuhkan butiran permen)

( Alivia mulai panik, lalu ia memanggil Bitta, Salsa, dan Alda)

Alivia                     : “Eh, elsa daritadi belum kembali. Tadi dia bilang mau mengangmbil jaket. Tapi sudah setengah jam dia belum kembali. Aku takut terjadi sesuatu sama dia.”
Bitta                      : “Liv, tadi aku lihat ada bayangan orang yang menyelinap menuju tenda kita. Apa mungkin Elsa diculik?”
Salsa                      : “Hey, jangan berasumsi macam-macam dulu!”
Alivia                     : “Tapi Sal, aku khawatir.”
Alda                      : “Ayo kita beritahu Bu Maryati dan guru lainnya.”

(Mereka berempat pun berlari menuju guru)

Alivia                     : “Bu Mar, Elsa belum kembali dari tenda. Saya takut dia kenapa-napa. Dia tadi  bilang ke saya hanya mau mengambil jaket. Tapi sudah setengah jalan dia belum kembali.” (dengan panik)
Bu Mar                  : “Tenang Alivia, jangan panik. Pak,Bu ayo kita suruh anak-anak untuk berpencar mencari Elsa.
Pak Yadi                : “Baik Bu, ayo lekas anak-anak ambil senter kalian. Kita akan bersama-sama mencari Elsa.”

(Mereka pun mencari sambil meneriakkan nama Elsa)

Alda                      : “Elsaa.. Elsa...”
Alivia                     : “Elsa... dimana kamu dek?”
Salsa                      : “Tunggi sebentar,bukannya ini permen yang sering dibawa Elsa?” (sambil menunjuk permen)
Bitta                      : “Iya benar, disini juga ada.”
Alivia                     : “Iya benar, sepertinya Elsa memang sengaja meninggalkan jejak untuk kita.”
Alda                      : “Ayo kita ikuti permen ini, mungkin ini bisa membawa ke tempat Elsa diculik.”

(Mereka berempat segera melanjutkan pencarian, walaupun sudah tengah
malam mereka mencoba untuk tidak mengantuk)

(Sementara itu di tempat persembunyian, penculik itu memaksa Elsa untuk menyerahkan kalungnya)

Penculik 2              : “Hey anak kecil, ayo cepat serahkan kalungmu!) (dengan nada membentak)
Penculik 1              : “Iya cepat serahkan, atau kamu mau pisau ini menggores kulitmu?! Cepat serahkan!!” (menodongkan pisau)
Elsa                       : “Aku tidak membawa kalung itu, percayalah.” (sedikit terisak)
Penculik 1              : “Halah tidak usah berbohong, Rasyid coba kamu cek saku-sakunya!”
(Beberapa menit berlalu)

Penculik 2              : “Sepertinya,anak ini benar-benar tidak membawa kalung itu.”
Penculik 1              : (mata melotot) Apa??!! Tidak mungkin!” (berpaling ke Elsa) “He anak kecil, dimana kau sembunyikan kalung itu?”
Elsa                       : (mulai menangis) “Aku benar-benar nggak membawanya, percayalah padaku! Bukankah kalian sudah memeriksanya?”
Penculik 2              : “Apa yang harus kita lakukan, sepertinya anak ini memang tidak berbohong.” (berpangku tangan)
Penculik 1              : “Apa boleh buat, karena anak ini telah melihat wajah kita, kita harus membunuhnya.” (mengelap pisau) (menempelkan ujung pisau ke leher Elsa)
Penculik 2              : (suara perut terdengar sambil memegangi perutnya)
Penculik 1              : (melirik penculik 2 dengan sinis) “Apa-apaan disaat seperti ini kamu malah lapar? Yasudah kita makan malam dulu, baru kita bereskan anak ini.”

(Kemudian penculik itu meninggalkan Elsa)

Elsa                       : (menangis dan berkata dengan lirih) “Semoga kak Alivia menemukanku sebelum dua orang ini membunuhku.”
Bitta                      : “Permennya Elsa semakin lama semakin sedikit yang kelihatan. Gimana ini? Jangan sampai kita kehilangan jejak.”
Alivia                     : (teriak) Ya Allah.. Elsa, kamu dimana sih?
Salsa                      : “Eh, lihat tuh. Kayaknya di pojok sana ada gubuk (nyorotin senter) meski permennya semakin jauh semakin sedikit, tapi arahnya menuju kesana.”
Alda                      : “Siapa tahu Elsa ada disana? Gimana kalau kita cek sekarang?” (bergegas ke gubuk tua)
Alivia                     : “Jangan dulu, Da!” (menarik lengan baju Alda)
Alda                      : “Loh, kenapa?”
Bitta                      : “Sebaiknya kita laporkan ke Pak Yadi, Bu Mar dan lainnya dulu. Kita minta bantuan mereka juga.”
Salsa                      : “Iya, selain itu kita nggak tahu siapa yang bersama Elsa dan senjata apa yang mereka miliki.”
Alivia                     : “Oke, aku akan mencari Bu Mar dulu.” (lari meninggalkan Alda,Bitta,Salsa)

(10 menit kemudian)

Bu Maryati            : “Anak-anak kita bagi tugas. Pak Yadi akan keluar daerah perkemahan ini untuk memanggil polisi, berhubung sinyal disini tidak memungkinkan. Sedangkan Ibu akan tetap di sini bersama kalian.”

Semua                   : “Baik Bu.” (menjawab serentak)
Bu Maryati            : “Kevin,Nabil, kalian siap-siap di pintu depan. Sedangkan Ilham,dan Manda kalian berjaga di pintu belakang. Novi dan Nadevan, kalian siap-siap di jendela samping gubuk itu, perhatikan gerak-gerik orang di dalam. Halila,Aji,Diego kalian selidiki gazebo kecil di dekat gubuk itu, siapa tau kalian dapat petunjuk tentang penculik itu.”
Semua                   : “Siap Bu!” (berlari menuju tempat masing-masing)

(Di dekat gubuk)

Halila                    : “Kayaknya memang ada orang di gubuk itu, lihat deh, ada jejak kaki baru yang menuju ke situ.” (sambil menunjuk gubuk)
Aji                         : “Eh lihat! Ada mobil disini, sepertinya itu milik orang yang kemungkinan menculik Elsa.”
Halila                    : “Ada apa, Go? Kok wajahmu terlihat kaget seperti itu?”
Diego                    : (masih dengan tampang shock) “Tidak... hanya sepertinya aku mengenali pemilik mobil ini. Aku sering berpapasan dengan mereka saat berangkat sekolah.” (terdiam sejenak) “atau mungkin aku salah orang.”
Aji                         : “Memangnya siapa, Go? Kalau kamu sering berpapasan dengan mereka, kemungkinan besar mereka orang dalam sekolah!” (dengan nada mendesak)
Halila                    : “Ayo Go! Ini demi keselamatan kita semua!” (panik)
Diego                    : “Begini... sepertinya ini mobil.... (berbisik kepada Aji dan Halila)
Halila&Aji              : (kaget) (wajah sedikit ketakutan) “Tidak... Tidak mungkin! Kalau itu benar mereka, kita semua berada dalam bahaya!
Diego                    : (mengangguk memberi persetujuan) Tapi tidak boleh terlalu tergesa-gesa. Kita harus melihat sitausi dulu, atau kita malah membuat keadaan semakin buruk.”

(Kevin dan Nabil berjaga di pintu depan)

Nabil                     : “Vin,lihat deh! Disekitar pintu banyak lumpur basah,berarti di dalam sini ada orangnya. Kelihatan bekas ini masih baru.” (berbisik)
Kevin                    : “Oh iya! Dan lihat! Ini bekas sampah masih baru,aku akan mengecek-nya.” (berjalan menuju tempat sampah )
Nabil                     : “Jangan! Nanti malah membuat keributan! (setengah berteriak)
Kevin                    : “Apa ? Suaramu nggak kedengaran! (berbalik) (menyenggol tempat sampah sampai jatuh) (keributan dari tempat sampah jatuh)
Nabil                     : (menutup wajah) “Gawat!”

(Sementara itu, kedua penculik berbincang-bincang)

Penculik 2              : “Hah... kenyang...” (memegangi perutnya)
Penculik 1              : (menggerutu) “Dasar! Cepat buang sampahnya. Lalu kita bereskan bocah kecil itu!” (menunjuk Elsa)
Penculik 2              : Ya...(berjalan dengan malas)
                             ( terdengar keributan dari luar)
Penculik 2              : “Apa itu ? Kok ramai sekali di luar.” (menoleh ke Penculik satu)
Penculik 1              : “Sial! Masa orang-orang itu menyadari lokasi kita ?! (mengambil pisau dan senjata) (menuju ke pintu) Hei, jaga bocah itu. Aku akan mengecek ke depan. (memakai masker pencurinya lagi.” (membuka pintu)

Kevin                    : “Maaf bil, maaf! Kita ketahuan sepertinya!”
Nabil                     : “Tidak ada waktu untuk meminta maaf. Sekarang apa yang harus kita lakukan jika kita ketahuan ?” (panik)

                             (suara pintu dibuka) (Nabil dan Kevin berjalan mundur)

Penculik 1              : (berpikir dalam hati) “Cih, ternyata 2 temen sekelas kakak si bocah itu. Berarti di sekitar sini mungkin ada guru. (maju mendekati Nabil dan Kevin) Apa yang kamu lakukan  disini, bocah kecil ?!”
Nabil                     : “Um...Tidak...Tidak apa-apa. Kita hanya...sekedar kebetulan lewat sini.” (berbicara terbata-bata) (berpikir dalam hati) “Sepertinya aku mengenali suara ini.”
Penculik 1              : “Jangan berbohong anak kecil !”
Kevin                    : “Kamu penculik kan ?! Kamu yang menculik Elsa kan ?! Kembalikan Elsa !” (berteriak menantang)
Penculik 1              : “Apa-apaan kamu anak kecil?? Kalau kamu berani menantang seperti ini kau akan rasakan akibatnya!” (berjalan ke arah Kevin dan Nabil)
Kevin                    : (memasang kuda-kuda) “Maju kalau berani!”
Nabil                     : (panik) “Kevin! Sudah jangan membuat keadaan semakin............” (jatuh terjerembab) “Apa-apaan kau?!” (berteriak ke arah penculik 1)
Penculik 1              : (bangkit setelah membanting Nabil) “Sudah terlambat, anak kecil! Kalian tidak bisa melarikan diri! Kalian telah mengetahui kejahatan kami. Sekarang, aku akan menutup mulut kalian selama-lamanya!!!” (tertawa dengan keras) (mulai menyerang Kevin)
Kevin                    : (jatuh menimpa Nabil)



Penculik 1              : “Tenang saja anak kecil, aku tidak akan langung membereskan kalian. Kalian akan kukunci di dapur setelah kami membereskan gadis kecil yang kalian cari. Hahahaha” (tertawa) (mengeluarkan tali dan mengikat Kevin serta Nabil lalu menyeret mereka ke dapur)

(Di samping gubuk tua tersebut)

Novi                     : “Devan, lihat! Sepertinya Nabil dan Kevin telah tertangkap oleh penculik itu! Bagaimana ini?” (panik) (menunjuk ke arah jendela)
Nadevan               : “Benarkah?!” (mengintip di balik jendela) “Ya Rabbi.. Sepertinya situasi semakin genting. Apa yang harus kita lakukan!?” (berjalan mondar-mandir)
Novi                     : (terdiam sejenak) “Apa kita memberitahu Ilham dan Manda dulu? Mungkin mereka akan memberi kita ide.” (bergegas menuju pintu belakang)

Tanpa dikomando, Nadevan segera mengikuti Novi menuju Ilham dan Manda.

Manda                  : “Ada apa, Nov, Van? Mengapa wajah kalian tampak ketakutan?” (bertanya dengan nada cemas)
Novi                     : “Anu... I.. Itu.. Nabil dan Kevin.....” (Suaranya bergetar)
Ilham                    : “Apa?? Apa yang terjadi pada Nabil?!” (wajah mengeras)
Nadevan               : “Nabil dan Kevin tertangkap oleh para penculik itu.” (dengan nada khawatir)
Ilham                    : (mengepalkan tangannya) “Kurang ajar! Siapa yang berlaku macam-macam pada Nabil maka mereka harus berhadapan denganku!” (dengan nada kesal)
Manda                  : “Tenangkan dirimu, ham! Jangan naik pitam dulu, yang kita butuhkan sekarang adalah mendinginkan kepala dan mengambil tindakan dengan cermat. Kalau kita gegabah, kita bisa tertangkap seperti mereka!” (dengan nada menenangkan Ilham)
Nadevan               : “Tidak ada jalan lain. Kita harus memberitahu semuanya sekarang, bahwa gubuk ini memang berisi orang-orang yang berbahaya.” (berkata dengan tegas)

Novi                     : “Baiklah. Manda dan Ilham sebaiknya kalian pergi menemui Alivia dan yang lainnya. Aku dan Nadevan akan memantau keadaan di sini.” (berkata dengan nada sedikit bergetar)
Ilham                    : “Oke. Kalian jaga diri di sini ya. Hati-hati, jangan sampai tertangkap.”

Akhirnya Ilham dan Manda bergegas kembali ke perkemahan.

(Di Perkemahan)

Bitta                      : “Sudah, jangan menangis terus liv. Memang, keadaan ini berat untukmu. Tapi jangan sampai membuatmu berlarut-larut dalam kesedihan.” (sambil mengelus punggung Alivia)
Salsa                      : “Kita pasti akan menemukan jalan terbaik kok” (dengan nada menenangkan)
Alivia                     : (mengelap air mata) (pundak bergetar) “I.. Iya.. Terimakasih teman-teman.”
Alda                      : “Lihat! Mengapa Manda dan Ilham berlari dengan tergesa-gesa seperti itu? Apa yang terjadi?” (bertanya dengan nada kebingungan) (menunjuk ke arah hutan)
(Alivia, Bitta, Salsa menoleh ke arah yang ditunjuk Alda)
Manda                  : “Semuanya..... Hhh.. hh” (berbicara dengan nafas tersenggal) “Gawat... Hhh.. hh.. Nabil.. hh.. hh..”
Alivia                     : (raut wajah khawatir) “Ada apa, nda? Tenangkan dirimu dulu, kau tidak akan bisa berbicara dengan jelas dalam keadaan seperti ini!”
Ilham                    : “Nabil dan Kevin tertangkap oleh penculik itu!” (memotong pembicaraan Manda dan Alivia) (dengan nada naik satu oktaf)
Salsa, Bitta&Alda    : “Apa???!!!!” (berteriak histeris)
Alivia                     : (menutup wajahnya dengan kedua tangan) (mulai menangis) “Maafkan aku, semuanya. Kalian sampai terlibat masalah sebesar ini karena aku. Maafkan.. huhuhu” (terisak)
Manda                  : “Sudahlah, liv.. Tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri. Sekarang kita harus menyusun strategi untuk membebaskan adikmu, Nabil dan Kevin.” (dengan nada menenangkan)
(Salsa dan Bitta memeluk Alivia)

Salsa                      : “Sudahlah, liv. Itu bukan sepenuhnya salahmu. Toh ini kejadian yang tidak terduga, selain itu kita juga sudah berjanji akan ikut menjaga adikmu selama kita kemah kan?!” (tersenyum kepada Alivia)
Bitta                      : “Iya, benar. Sudah jangan nangis” (mengelap air mata Alivia)
Ilham                    : “Ah! Aku dapat ide!” (menepukkan kedua tangannya) “Sebenarnya ini cukup beresiko. Bagaimana kalau aku dan Manda akan mencoba mengalihkan perhatian si penculik di depan gubuk itu? Lalu Alivia dan Salsa langsung masuk ke dalam gubuk untuk menyelamatkan Elsa. Bitta bisa menjaga di luar gubuk untuk melihat situasi siapa tahu di sekitar situ masih ada komplotan penculik tersebut. Alda, kamu tetap di sini untuk menunggu Pak Yadi dan menunggu kabar selanjutnya. Aku tahu ini beresiko cukup besar untukku dan Manda. Tapi inilah satu-satunya jalan yang bisa kita ambil!” (berkata dengan tegas)
Manda                  : “Aku setuju dengan Ilham. Dan seperti kata Salsa, kita sudah berjanji untuk menjaga Elsa bersama-sama jadi segala konsekuensi kita harus berani tanggung.” (berbicara dengan nada serius)
Alivia                     : “Tidak.. Aku tidak ingin mengorbankan teman-temanku lagi! Mengapa kita tidak menunggu Pak Yadi saja baru kita menggerebek gubuk itu?” (dengan nada menentang)
Salsa                      : “Kita tidak punya banyak waktu liv, namun kita juga tidak boleh gegabah.. Tapi itu adalah satu-satunya jalan yang kita miliki. Kita nggak tau bahaya apa yang mengancam Elsa, Nabil, dan Kevin di dalam sana! Jika kita tidak segera bertindak, keselamatan mereka mungkin akan terancam.” (berkata dengan suara tegas)
Bitta                      : “Aku setuju dengan ide Ilham. Bagaimanapun yang kita butuhkan sekarang adalah kerja sama tim. Masalah keselamatan memang tidak terjamin, tapi tidak ada salahnya kita menjalankan strategi ini.” (menoleh kepada Alda) “Bagaimana, Da? Apakah kamu setuju?”


Alda                      : “Aku setuju. Aku akan mengawasi keadaan di sini dan menunggu Pak Yadi. Selain itu aku akan memberi kabar kepada Bu Mar agar Bu Mar dapat meminta bantuan ke lainnya.” (berkata dengan nada semangat)
Alivia                     : (menghela nafas) “Baiklah kalau begitu. Ayo kita berangkat”
                            
Mereka pun berjalan menuju gubuk itu tanpa mempedulikan bahaya apa yang
menunggu mereka di sana..

(Sesampainya di gubuk)

Manda                  : “Aku dan Ilham akan membuat keributan untuk memancing penculik itu keluar. Alivia, Bitta, Salsa, kalian sembunyi di balik semak-semak ini dahulu sampai aku dan Ilham berhasil memancing dia. Untuk Alivia dan Salsa, ingat satu hal; Kalian harus secepatnya masuk ke dalam gubuk itu tanpa sepengetahuan mereka karena kita tidak mungkin mendapat kesempatan yang sama dua kali! Bitta kamu tetap jaga di sini dan memantau keadaan. Kalau bisa tolong foto secara diam-diam kejadian ini untuk dijadikan barang bukti.”
Semuanya              : “Siap!”

(Di dalam hutan)
                                     
Halila                    : (berlari) “Ayo, Aji, Diego! Kita harus cepat menemui Pak Yadi! Kalau tidak hal-hal yang tidak kita inginkan bisa terjadi!!” (hampir berteriak histeris)
Diego                    : “Hhh.. Iya.. Sebentarlil, nafasku udah nggak kuat... Hhh.. Hhh...” (nafas tersenggal-senggal) (masih tetap berlari)
Aji                         : “Aku benar-benar nggak nyangka kalau mereka pelakunya!!” (sedikit histeris)
Diego                    : “Bagaimanapun juga itulah kenyataannya. Dan aku yakin itu memang mobil mereka karena plat nomornya persis dengan apa yang aku ingat” (memasang tampang serius)
Halila                    : “Hh.. Hhh.. Kita sudah sampai..” (nafas tersenggal-senggal) “Ayo kita cari Pak Yadi”

Aji                         : “Ah! Itu dia!” (menunjuk ke arah pria berjaket cokelat)
Aji,Halila&Diego    : “Pak Yadiiiiii” (berlari menuju pria itu)
Pak Yadi                : “Ada apa anak-anak? Mengapa kalian ke sini juga? Bukankah Bu Mar telah memberikan kalian tugas?” (memasang wajah heran dan kesal)
Aji                         : “Begini, Pak. Saat kami memeriksa gazebo dekat gubuk itu, Diego menemukan barang bukti yang penting.” (sambil menunjuk ke arah Diego)
Pak Yadi                : “Benarkah itu, Diego?” (kaget)
Diego                    : “Ya, Pak. Jadi begini ceritanya...” (menceritakan kejadian dengan detail)
Pak Yadi                : “Begitu rupanya..” (dengan nada sedikit kaget) “Pantas saja mereka minta ijin selama kita mengadakan kegiatan ini. Baiklah, saya akan mengkordinir polisi dan memanggil murid PMR untuk menangani siswa yang terluka. Kalian tunggu sini bersama saya dan jangan berpencar!”
Semua                   : “Baik, Pak!”
Halila                    : “Apakah ini hanya perasaanku atau sepertinya sesuatu telah terjadi terhadap mereka?” (berkata dengan lirih) (badan sedikit gemetar)
Aji                         : “Hush, jauhkan pikiran buruk itu darimu! Kita hanya bisa berdoa sekarang. Aku harap tidak ada sesuatu yang membahayakan nyawa mereka.” (berkata dengan raut muka serius namun khawatir)
Diego                    : (mengangguk memberi persetujuan) (menatap ke dalam hutan) (berkata dengan suara rendah) “Aku harap kalian baik-baik saja..”

(Di dalam gubuk)

(Terdengar keributan dari luar)
Penculik 1              : “Ada apa lagi ini???” (menggerutu) “Jangan bilang teman-temanmu yang lain ada di sekitar sini juga!?” (melirik Nabil dengan sinis)
Nabil                     : (menggeleng dengan lemah)
Penculik 1              : “Jangan bohong!” (menendang Nabil dengan keras)
Nabil                     : “AAARRGHHH!!!!” (memegangi tulang iganya)
Penculik 1              : “He, kamu! Jaga anak-anak ini jangan sampai lepas! Aku akan membereskan sisanya di luar.” (berkata pada penculik 2)
Penculik 2              : “Baik bos!” (memalingkan wajah ke Nabil dan Kevin) “Hehehehe.. Sakit ya, bocah kecil? Makanya jadi anak nggak usah sok sok berani. Akibatnya benar-benar nggak terduga kan hahahaha” (tertawa dengan keras)
Kevin                    : “Grrrrr” (menggeram)
Nabil                     : (kaget) (berkata dalam hati) “Suara ini...... Aku benar-benar mengenalnya! Tidak salah lagi, mereka adalah orang-orang yang bekerja di sekolah kami!”

(Di luar gubuk)

Penculik 1              : “Wah wah wah.. Kalian teman anak yang punya tai lalat di bawah matanya dan anak berkacamata itu, ya? Kalian di sini mau berperan sebagai pahlawan untuk menyelamatkan mereka, ha? Hahahaha, kemari jika kalian berani!” (berteriak dengan nada menantang)
Ilham                    : (Sudah mengepalkan tangannya) (Tiba-tiba Manda maju menghalangi Ilham)
Manda                  : “Mau kalian apa sekarang? Apa maksud kalian dari menculik Elsa dan sampai menyakiti Nabil dan Kevin!?” (bertanya dengan baik-baik)
Penculik 1              : “Baiklah akan aku jelaskan. Aku menculik gadis kecil itu untuk mengambil kalung permatanya, namun ternyata kalung itu sedang tidak ada bersamanya saat ini. Malangnya anak itu telah mengetahui wajah kami, jadi dia tidak akan kami biarkan hidup terlalu lama.” (menjelaskan sambil berkacak pinggang) “Dan hal yang sama akan berlaku pada kalian, bocah! Hahahahaha!!” (maju melawan Manda dan Ilham)

(Alivia mendengar percakapan itu di balik semak-semak dan menggeleng tidak percaya. Jadi kalung itulah yang menyebabkan semua orang berada dalam bahaya)

Salsa                      : “Sekarang waktunya, liv! Manda dan Ilham telah mengalihkan perhatian penculik itu. Sekarang mereka sedang berduel di samping gubuk. Bit, kita tinggal dulu ya!” (sambil menarik lengan Alivia)
Alivia                     : “Ayo. Bit, hati-hati di sini.” (berjalan menuju pintu gubuk yang tidak terjaga)

(Di dalam gubuk)

Alivia                     : “Gubuk ini sungguh pengap! Di mana penculik itu menyembunyikan Elsa!?” (dengan berbisik)
Salsa                      : (memperhatikan sekeliling) (mendesis) “Nabil... Kevin.. ??” (berjalan menuju kaca pintu dapur)
Alivia                     : (mengikuti Salsa) “Ternyata kalian di sini!! Sebentar aku akan mengeluarkan kalian.” (memutar kunci yang menggantung di pintu dapur) (membuka pintu dapur dengan perlahan)
Salsa                      : “Ya Allah, Nabil.. Kevin.. Memar dan luka kalian parah sekali!?!” (mengeluarkan tisu dan membersihkan luka pada Kevin dan Nabil)
Alivia                     : (membantu Salsa membersihkan luka Nabil) “Elsa di mana, bil? Apakah dia berada di ruangan yang berbeda?” (dengan nada cemas)
Nabil                     : “Elsa ada di... Uhuk!!” (batuk dan mengeluarkan darah akibat kesakitan setelah ditendang oleh penculik 1)
Kevin                    : “Elsa ada di ruangan sebelah, Liv, Sal. Tapi di situ ada penculik lainnya. Kalian harus hati-hati! Mereka tidak main-main dalam mencelakakan kita!” (terang kevin dengan nada sedikit takut)

 (dari luar pintu dapur)

Penculik 2              : “Ada apa ini kok ribut-ribut??” (berjalan menuju pintu dapur) “Hah? Kenapa bisa terbuka? Siapa yang membuka kuncinya??” (membuka pintu dapur lebih lebar)

(Nabil, Kevin, Alivia, Salsa duduk gemetaran ketika mereka ketahuan)

Penculik 2              : “Wah wah.. Sepertinya semakin banyak tikus yang terperangkap di sini. Bagaimana jika kalian kubereskan sekarang juga? Bos pasti tidak akan marah meski aku telah membunuh kalian sebelum dia memerintah.” (maju membawa pisau)

(Nabil maju melindungi Kevin, Alivia dan Bitta meski badannya penuh luka)

Penculik 2              : “Oh anak bertai lalat, sepertinya kamu mau mati duluan ya. Hahaha, baiklah kalau begitu. Ini tidak sakit kok” (mengayunkan pisau ke Nabil)
Nabil                     : (memejamkan mata) (tidak ada yang mengenai tubuhnya) (membuka matanya) (parang yang dipegang Salsa mencegah pisau si penculik 2)
Penculik 2              : “Wah kamu sepertinya berani menantang ya, sampai membawa senjata juga.” (memandang ke arah Salsa)
Kevin                    : “Dari mana kau dapatkan parang itu?” (heran)
Salsa                      : “Aku membawanya dari tenda untuk alat pertahanan diri.” (dengan nada datar)
Penculik 2              : “Baiklah, gadis berkacamata. Maju by one denganku sekarang. Kita lihat siapa yang lebih unggul!” (nada menantang)
Salsa                      : (berbisik ke Alivia) “Aku akan mengalihkan perhatiannya, kamu segera menuju ke ruangan tempat Elsa berada.”
Alivia                     : “Tapi...” (dengan nada ragu)
Salsa                      : “Sudah, jangan khawatirkan aku! Cepat pergi!” (dengan nada mendesak)
Alivia                     : (mengangguk)

(Salsa dan Penculik 2 berjalan menuju ruang tengah untuk berduel)

Penculik 2              : “Hei kamu, dengan badan seperti itu kamu tidak akan bisa bergerak seluwes aku dan jelas-jelas aku yang akan menang hahahahahaaha” (dengan nada mengejek)
Salsa                      : (berkata dalam hati) Sebaiknya kamu ngaca dengan badanmu sendiri sebelum mengatai orang lain.

Salsa dan Penculik 2 mulai berduel  sedangkan Alivia berjalan perlahan menuju
ruangan di mana Elsa berada.

(di samping gubuk)

Penculik 1              : “Ternyata kalian luwes dan tangguh juga ya. Berbeda dengan 2 temanmu yang lain.” (sambil mengelap keringat di dahinya)


Manda                  : “Sudahlah, kita selesaikan ini secara baik-baik kan bisa!” (berjalan terhuyung-huyung karena kehabisan tenaga)
Ilham                    : “Cepat bebaskan Nabil dan lainnya! Heaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!” (mulai menyerang penculik 1 lagi)
Penculik 1              : (dengan mudah menghindar) “Aku akui kalian memang kuat, tapi stamina kalian sekarang sudah berkurang. Hahahaha jangan cari mati, kalian hanya buang-buang tenaga di sini. Bagaimanapun kalian hanya anak kecil, kekuatan kalian belum sebanding denganku!” (berkata dengan nada sombong) (menyerang Ilham balik)
Ilham                    : (tidak dapat menghindar) (terpental mengenai tembok gubuk) “Akh.... Orang ini benar-benar kuat!!”
Penculik 1              : “Yang ini sudah beres........ Berarti tinggal yang satu ini.” (menoleh ke arah Manda) “Bocah ini sepertinya memang sangat kuat, jadi tak ada salahnya jika aku mencoba alat ini. Hahaha” (mengeluarkan stun gun dari sakunya) (menyengat leher Manda dengan stun gun)
Manda                  : “Ti....dak..” (pingsan) (jatuh terjerembab)
Ilham                    : “Manda!!!! Cih, kurang ajar.................” (terkena sengatan stun gun dari pencuri 1) (pingsan)
Pencuri 1                : “Ckckck. Dasar, masih kelas 9 saja sudah menyusahkan begini!” (menyeret Ilham dan Nabil ke dalam gubuk)

(di dalam gubuk)

Alivia                     : “Elsaaa.. Elsaa... Kamu di mana???” (berkeliling gubuk)
Elsa                       : (membuka matanya) “Kak Alivia? Kakak?? Kaak, aku di sini kakak!!! Huhuhuhuhu” (mulai menangis)
Alivia                     : (berlari ke sumber suara) “Elsaaaaa. Ya Allah Elsaa, kamu nggak apa-apa, kan? Kamu nggak terluka kan?” (menangis dan memeluk Elsa)
Elsa                       : “Aku nggak apa-apa kak.. Bagaimana dua penculik itu? Apa mereka sudah ditangkap polisi?” (mengusap air matanya)
Alivia                     : “Belum, Sa. Tapi teman-teman kakak sedang berusaha mengalihkan perhatian mereka.” (dengan nada lirih)

 (di seberang ruangan)

Penculik 2              : “Cih! Gadis ini ternyata tidak bisa diremehkan begitu saja! Hhh... hhhh” (mulai kehabisan nafas)
Salsa                      : “Hhhh... hhhh” (kehabisan nafas) (lelah)


(suara pintu dibuka)


Penculik 1              : “Hei ada apa ini kok ramai sekali?” (diam sejenak) (kaget melihat kehadiran Salsa)
Penculik 2              : “Lihat bos, gadis ini dan gadis satunya yang sepertinya kakak dari bocah cilik itu telah menyusup kemari!” (sambil menuding Salsa)
Penculik 1              : “Kurang ajar! Jadi dua bocah ini hanya sebagai umpan hah!?” (melempar Ilham dan Manda ke dalam dapur) “Di mana gadis satunya? Jangan bilang kalau dia................” (berlari ke ruangan di mana Elsa disekap)
Salsa                      : (terpaku pada sosok penculik 1) (berkata dalam hati) Sepertinya aku mengenali suara ini.... Tapi di mana??? (lengah)
Penculik 2              : “Akhirnya kau lengah juga, hahaha!! Kenapa kau memandangi bosku seperti itu? Apa karena dia terlalu ganteng sepertiku? Huahahahahaha!!!” (tertawa seraya mengempit leher Salsa dengan kuat)
Salsa                      : “Jangan konyol! Bagaimana aku bisa tau dia ganteng atau tidak jika ia memakai penutup wajah seperti itu?! Lepaskan aku dari ketiakmu gaaaaaaahhh!!!!!!” (meronta-ronta)

(di dalam ruangan di mana Elsa dan Alivia berada)

Penculik 1              : (bertepuk tangan) “Plok plok plok... Harus kuakui kalian semua memang hebat, bisa melacak dan bertindak sejauh ini. Tapi sayang sekali kalian tidak sekuat itu untuk dapat mengalahkanku dengan anak buahku.” (tersenyum sinis)
Alivia                     : “Apa yang kau inginkan?!” (menatap penculik 1 dengan sinis)

Penculik 1              : “Oh, bukan sesuatu yang besar. Hanya kalung permata yang dimiliki adikmu. Sayang sekali ia tidak membawanya, dan ia telah mengetahui wajah kami maka ia sudah sepantasnya mati, hahahahaha. Kalau kau ingin mati bersamanya, dengan senang hati akan kulakukan, nona manis” (berjalan mendekati Alivia)
Alivia                     : (memandang dengan jijik) “Apa yang akan kaulakukan jika kau telah mendapatkan kalung itu?!” (setengah berteriak)
Penculik 1              : “Mudah saja, aku akan membebaskan kalian semua kecuali adik manismu itu. Seperti yang telah kukatakan, ia telah mengetahui wajah kami. Sehingga kami tidak akan membiarkan ia hidup lebih lama.” (bersedekap dan tersenyum sinis)

Alivia pun bingung apa yang harus ia lakukan. Ia benar-benar telah dihadapkan
dengan pilihan yang berat. Sementara itu, Pak Yadi dan lainnya telah
memanggil polisi, serta anggota PMR untuk menyelamatkan Alivia dkk. Mereka
telah bergegas menuju gubuk yang dipenuhi terror tersebut.


Pak Polisi               : “Di mana letak gubuk tersebut, Pak?” (dengan nada tegas)
Pak Yadi                : “Lurus terus saja, Pak. Kita sudah dekat.” (sambil memimpin pasukan PMR ke arah gubuk tersebut)
Bu Maryati            : “Benarkah Pak bahwa yang menculik Elsa adalah Pak Vidy dan Pak Rasyid?” (bertanya kepada Pak Yadi) (dengan nada sedikit tidak percaya)
Pak Yadi                : “Ya, tidak diragukan lagi itu adalah mereka. Dari cerita yang dipaparkan Diego tadi mengenai mobil yang mereka lihat di gazebo tersebut mirip dengan ciri-ciri mobil Pak Vidy serta plat nomornya sama. Selain itu, saya telah bertanya ke Pak Langgeng yang tinggal di dekat rumah mereka apakah Pak Vidy dan Pak Rasyid nampak di sekitar situ, dan jawabannya cukup mengejutkan. Pak Langgeng berkata bahwa Pak Vidy kemarin sempat bercerita bahwa ia akan pergi ke luar kota hari ini sampai besok dengan Pak Rasyid, lalu ketika Pak Langgeng menanyakan di mana tempat yang akan mereka kunjungi, Pak Rasyid sepertinya keceplosan menjawab Pacet. Sudah terlihat bahwa Pak Vidy menyembunyikan tentang tempat yang akan ia kunjungi karena saat Pak Rasyid menyebut Kota Pacet, raut muk Pak Vidy langsung berubah dan seketika ia menyikut perut Pak Rasyid. Hal ini sudah cukup menjelaskan bahwa Pak Vidy dan Pak Rasyid adalah tersangka utama. Di tambah lagi, menurut kesaksian seoran murid, ia melihat mobil dengan ciri-ciri yang sama dengan yang dikatakan Diego tadi membututi bis kita tadi pagi. Karena murid itu menganggap mobil tersebut hanya mobil biasa yang mempunyai tujuan sama dengan kita maka ia tidak mempedulikan hal itu.” (jelasnya dengan nada serius, dan sedikit kesal)
Bu Maryati            : “Saya benar-benar tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Bagaimanapun juga, Pak Rasyid tidak terlihat sebagai tampang orang yang akan melakukan kriminalitas. Namun jika Pak Vidy mungkin masih sedikit meyakinkan, namun sikapnya mereka berdua sungguh sopan dan baik selama bekerja di sekolahan kita. Saya berprasangka selama ini bahwa mereka adalah orang yang dapat kita percayai namun kenyataannya sungguh berbeda. Dunia ini memang penuh dengan orang-orang yang susah dipahami.” (dengan nada heran dan kecewa)
Pak Polisi               : “Justru itulah pelajaran yang dapat kita ambil dari kejadian ini. Kita tidak dapat menilai seseorang melalui penampilannya. Tidak semua orang yang berwajah baik itu baik dan tidak semua orang yang wajanya tidak rupawan itu buruk. Seperti kata kebanyakan orang; ‘don’t judge a book by its cover’. Begitupula dengan ucapan seseorang, kita tidak dapat semudah itu mempercayai perkataan seseorang ataupun gerak-gerik mereka meskipun itu terlihat manis dan  baik. Dan kita tidak boleh menilai sesuatu melalui prasangka. Kita harus benar-benar teliti dan mencermati apapun yang ada di sekitar kita, jangan menilai seseorang secara instan sebelum kita mengenal mereka lebih jauh.”

Pak Vidy adalah kuli bangunan yang bekerja di sekolah Alivia, sedangkan Pak
Rasyid adalah tukang kebun sekolah. Ternyata identitas para penculik itu
adalah mereka! Sungguh tidak terduga.

(di depan gubuk)

Pak Yadi                : “Ini Pak gubuknya!” (sambil menunjuk gubuk tersebut)
Pak Polisi               : “Baik, dalam hitungan ketiga kita akan menggerebek gubuk ini. Satu... Dua... Tiga... !!!” (memberi komando ke yang lain)

Para polisi pun akhirnya menggerebek gubuk tersebut dan menangkap Penculik
1 yang ternyata adalah Pak Vidy (ketua atas tindakan kriminal tersebut) dan
penculik 2 adalah Pak Rasyid. Motif mereka menculik Elsa adalah untuk
mencuri kalung permata yang Elsa miliki dan akan mereka jual untuk
kebutuhan finansial mereka. Mereka mengetahui tentang kalung Elsa karena
sering melihat Elsa mengenakan kalung itu saat menjemput Alivia di
sekolahnya. Akhirnya mereka berdua digiring ke kantor polisi dan akan
diberikan hukuman yang setimpal.

Nabil, Kevin, Ilham, Manda dan Salsa akhirnya dibawa oleh anggota PMR
untuk diobati. Terutama Nabil, ia harus dibawa ke rumah sakit karena tulang
iganya banyak yang patah karena ditendang oleh Pak Vidy.

Alivia                     : “Pak Yadi, Bu Mar dan teman-teman semuanya maaafkan aku dan adikku ya. Karena kami, kalian telah terlibat sampai sejauh ini. Bahkan banyak anak yang terluka juga.” (menundukkan kepala dan berbicara dengan nada sedih)
Bu Maryati            : “Iya, nggak apa-apa Alivia. Yang penting semua sudah berakhir dengan bahagia.” (tersenyum)
Pak Yadi                : “Lagipula banyak hal yang dapat kita pelajari dari hal ini. Betul atau betul, anak-anak???” (tertawa)
Bitta&Alda             : “Betul paaaak! Hahahaha” (tertawa bersama-sama)









Terimakasih Sudah Membaca